Sherlen "Ada Apa Dengan Tuhan?"
KUDUS, 4 MEI 2017
Aku pura-pura tersenyum padanya. Diapun membalas,
namun aku rasa dia juga sedang berpura-pura. Dia menyodorkan kepadaku sebuah
bungkusan berukuran sepuluh senti persegi dan mengatakan beberapa kalimat
sebelum akhirnya membalikan badan dan meninggalkanku. Dia bahkan tidak
menolehkan wajahnya ke belakang meski aku sedikit berharap. Aku yakin dia tidak
melihat airmataku keluar pada saat itu.
Dia sudah tidak terlihat. Namun aku masih berharap Pram kembali
untuk mengusap airmata ini. Mulai jam 8 pagi aku menuggunya di taman kota ini. Seorang
diri, karena aku tidak ingin siapapun yang kenal aku melihat aku menangis
ketika dia pergi. Dia datang terlambat kali ini. Bukan yang pertama kali. Bahkan
sudah berpuluh kali dan entah kenapa aku selalu memaafkan. Pram orang yang
sibuk. Siapapun tahu. Tapi dia tak pernah meninggalkanku apalagi melupakan. Hanya
saja kali ini memang aku yang meminta agar dia menjauh dariku. Bahkan bukan
sekedar menjauh. Tapi meninggalkan dan melupakan.
***
“Sherlen… tidak kah kau ingin memelihara kucing-kucing yang manis
ini?” Tanya Pram sembari memegang kandang dan memperlihatkan senyum ,memamerkan
giginya.
“Tentu Pram.” Aku mendekat. “Aku sangat ingin. Dulu aku pecinta
kucing. Bahkan di umurku yang kelima tahun aku sudah punya empat kucing”
“Boleh aku membeli satu untukmu?”
“Aku sangat ingin Pram… tapi aku takut ia akan bertengkar degan larry”
“Larry?”
“Kau tahu adikku sangat suka memelihara anjing bukan? Larry, itu
nama anjing kesayangannya Pram.”
“It’s ok.” Sedikit kata dan dia mengajaku berpindah tempat.
Dia terlihat kecewa. Dia penyayang kucing, Dia yang bilang. Dia pernah
bercerita bahwa dia punya tiga kucing yang lucu di rumah. Sayang dia jarang
pulang dan kucing-kucingnya kurang terawat. Itu sekian tahun yang lalu. Aku lupa
tepatnya. Namun kami baru kenal beberapa bulan kala itu. Aku sangat tertarik
padanya. Bahkan sejak pertama kami bertemu. Aku mengira dia akan sangat menutup
diri padaku. Memang benar, untuk yang kedua dan ketiga. Tapi kami mulai membaur
setelah beberapa kali bertukar kabar. Dia lelaki yang asik. Tidak seperti yang
beberapa orang katakan.
“Kau dekat dengan Pram?” Tanya salah seorang teman di perpustakaan
kampus.
“Pram?” aku mencoba memastikan.
“Prambudi Ahmad” entah dari mana dia punya foto Pram dan
menunjukan kepadaku, “Lelaki muslim yang pendiam itu Sher..”
“Jika Chating beberapa kali bisa dikategorikan sebuah kedekatan,
berarti kami dekat del..” aku sedikit tersenyum.
Beberapa waktu kami sering bertukar kabar . Beberapa waktu kami
bercerita tentang daerah asal. Beberapa kali kami juga menyinggung sedikit soal
ideology agama kami. Sebenarnya aku sudah sangat menghindari berbicara soal
agama. Tapi penasaran adalah bagian dari hal yang tak terhindarkan. Kau tahu? Bahkan
sempat sekali aku hampir menggamparnya karena salah paham. Tapi aku justru
semakin ingin belajar banyak tentang dia. Pram bahkan sangat tenang saat itu. Itu
yang membuat aku tahu dia sangat dewasa. Lebih dewasa dari usianya. Menurutku harusnya
dia ikut marah, tapi tidak. Dia justru tertawa dan mengatakan bahwa aku sangat
lucu.
“Kau tahu Sharlen? Adiku sering menggampar pipiku ketika dia kalah
bicara. Aku tidak marah. Karena dia masih kecil.” Lalu dia mengucapkan
terimakasih karena aku telah
mengingatkan pada adiknya. Pram lelaki yang hebat. Dia bertahan di kota orang
dengan keringatnya sendiri. Dia pernah bilang bahwa Nabinya yang mengajarkan. “Muhammad”
itu nama yang dia sebut ketika aku bertanya nama.
***
Mentari semakin menengah dan kulitku terasa tersengat. Mungkin dia
menyuruhku untuk segera pergi dari taman ini. Tapi jika benar, itu adalah
perintah yang cukup kasar. Kenapa dia tidak menyuruh dengan kata-kata. Memang benar
mentari tak punya mulut. Tapi bukankah Tuhan Bapa bisa melakukan apapun? Kenapa
dia tidak membuat mentari berbicara? Tiga kata saja. Mungkin sekedar bilang “Hai
Sherlen! Pergilah!” itu lebih baik menurutku. Tapi biarlah. Aku tidak mungkin
mengatur Tuhanku. Sebagaimana yang pernah Pram katakan. “Aku tak mungkin
mengatur Tuhanku Sherlen. Ini adalah jalan yang Dia tentukan dan aku hanya bisa
membuat ancang-ancang.” Waktu itu aku membantunya mengantarkan beberapa pesanan
baju pelanggan. Aku bertanya kenapa dia tidak meminta Tuhannya membuat dia
sukses secepat mungkin.
“Lagi pula ceritanya kurang menarik jka aku terlalu cepat sukses
bukan?” lanjutnya, namun aku hanya tersenyum. Ada suatu kebanggaan yang entah
timbul dari mana. Aku sendiri bingung karena kami tidak ada ikatan apapun. Tapi
aku bangga dia mengatakan itu.
Kami baru berbincang soal perasaan satu bulan kemudian. Kami merasa
harus ada ikatan yang dibangun. Apapun ahir dari ikatan itu. Siapapun akan
berfikir dua kali untuk menjalin hubungan dengan orang yang memiliki perbedaan
keyakinan. Tapi kami memberanikan diri.
“Kau tahu Sherlen? Aku bahkan tidak takut jika suatu saat kita
akan berpisah.”
“Aku justru merasakan yang sebaliknya Pram.”
“Kau tidak ingin tahu kenapa?”
“Haruskah aku bertanya Pram?”
“Mungkin tidak, tapi kau harus tahu bahwa di Agamaku ada tiga hal
yang telah ditetapkan Tuhan. Jodoh, rizki dan mati.”
“Tidak bisakah kau meminta Tuhanmu untuk memastikan ketetapan yang
pertama itu adalah aku Pram?”
“Aku bisa meminta Sher… tapi tidak bisa memastikan.”
BLA…. BLA…. BLA….
Comments
Post a Comment